Pertamina UMK Academy 2026 Bekali 211 UMKM JBT dengan Fondasi Bisnis yang Kuat

wartaloka, Cilacap – Pertamina Patra Niaga melalui program Pertamina UMK Academy 2026 terus mendorong pengembangan kapasitas & kemajuan usaha mikro dan kecil (UMK) melalui pelatihan penguatan fondasi bisnis dan inovasi produk.

Pelatihan regional yang diselenggarakan secara daring pada Jumat (9/10/2026) ini diikuti oleh 211 UMK terpilih dari wilayah Jawa Bagian Tengah (JBT).

211 UMK tersebut merupakan peserta yang lolos tahapan kurasi tingkat regional Pertamina UMK Academy 2026, bersama Akselerator UMK Academy, Lifania Riski Nugrahani, yang juga menjabat sebagai Officer CSR & SMEPP Pertamina Patra Niaga RU Cilacap.

Pelatihan ini menjadi upaya meningkatkan kompetensi pelaku UMK agar mampu mengelola usaha secara lebih terarah, adaptif, dan berkelanjutan di tengah dinamika pasar.

Pada sesi pertama, peserta mendapatkan materi dari Imam Subchan bertajuk “Membangun Pola Pikir Bisnis dan Memahami Model Bisnis”. Imam menekankan pentingnya perubahan pola pikir pelaku UMK dari sekadar menjalankan transaksi menjadi pengelola bisnis yang mampu menciptakan nilai bagi pelanggan.

“Keberhasilan usaha tidak cukup dari besarnya omzet. Pelaku UMK juga perlu memahami kesehatan bisnis melalui indikator, seperti margin keuntungan, arus kas (cash flow), produktivitas, serta kemampuan operasional usaha untuk berjalan tanpa bergantung sepenuhnya pada pemilik,” jelasnya.

Peserta juga diajak mengenali pelanggan yang paling bernilai, memahami keunggulan produk dibandingkan kompetitor, menentukan kanal penjualan yang efektif, serta memetakan sumber pendapatan dan struktur biaya.

“Dengan pemahaman model bisnis yang lebih komprehensif, pelaku UMK diharapkan mampu mengambil keputusan berdasarkan data dan hasil evaluasi, bukan semata-mata intuisi,” imbuh Imam.

Penguatan fondasi bisnis tersebut dilanjutkan melalui materi kedua oleh pegiat pendidikan, Khabib Bima, dengan tema “Strategi Inovasi dan Diversifikasi Produk UMK”.

Dalam sesi ini, peserta diajak mengidentifikasi peluang pertumbuhan usaha dengan memahami kebutuhan pelanggan, membaca perubahan pasar, menemukan celah kompetitor, serta menyesuaikan inovasi dengan kapasitas internal usaha.

Khabib menegaskan, inovasi tidak selalu harus diwujudkan melalui penciptaan produk baru. “Pelaku UMK dapat meningkatkan nilai tambah produk melalui pembaruan kemasan, penyesuaian ukuran, strategi bundling, pengembangan kanal penjualan, penyediaan layanan khusus, hingga penguatan cerita dan identitas produk,” urainya.

Selain itu, peserta diperkenalkan pada pendekatan pengujian inovasi dalam skala kecil sebelum melakukan produksi dalam jumlah lebih besar. Langkah ini penting agar pelaku UMK dapat mengevaluasi respons pasar, mengukur potensi permintaan, dan meminimalkan risiko sebelum mengalokasikan sumber daya lebih lanjut.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga RU Cilacap, Agustiawan, menegaskan bahwa kedua materi tersebut saling melengkapi dalam membangun kemampuan pelaku UMK untuk naik kelas.

“Fondasi bisnis yang kuat menjadi bekal bagi pelaku UMK untuk menentukan arah pertumbuhan usaha secara lebih terukur. Sementara itu, inovasi dan diversifikasi berdasarkan kebutuhan pasar membuka peluang untuk menjangkau pelanggan baru, memperkuat daya saing, dan menciptakan sumber pendapatan yang lebih beragam,” ujar Agustiawan.

Melalui Pertamina UMK Academy 2026, Pertamina Patra Niaga terus memperkuat dukungan terhadap pengembangan UMK melalui peningkatan kompetensi, perluasan wawasan bisnis, dan penguatan kemampuan inovasi. Upaya ini diharapkan dapat melahirkan UMK yang semakin mandiri, kompetitif, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi perekonomian masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *