wartaloka, Cilacap — Tidak ada sepeda balap mahal. Tidak ada perlengkapan mewah. Bahkan, ketika pertama kali mencoba balapan, Delisha Rania Putri tidak memiliki sepeda untuk dikayuh.
Namun, dari keterbatasan itulah sebuah cerita perjuangan dimulai.
Usianya baru 10 tahun. Sehari-hari ia merupakan siswi SDN Cilacap 07, Kampus Kebonjati. Rumahnya berada di kawasan pesisir, tak jauh dari Gudang PT Antam Cilacap. Di sanalah, tanpa pernah direncanakan sebelumnya, langkah kecil Delisha menuju dunia balap sepeda bermula.
Awalnya, Delisha bersama teman-temannya hanya ingin melihat orang-orang berlatih sepeda. Mereka bahkan rela melompat tembok PT Antam Cilacap demi bisa menyaksikan latihan dari dekat.
Hari demi hari, rasa penasaran itu berubah menjadi keinginan untuk mencoba. Delisha kemudian memberanikan diri meminta kepada pelatih, Moko, agar diperbolehkan ikut bersepeda.
Sang pelatih pun bertanya sederhana.”Sepedamu mana?” Delisha menjawab polos.”Tidak punya, Pak.”
Jawaban sederhana itu justru menjadi awal dari perjalanan panjangnya.
Melihat keinginan Delisha, sang pelatih meminjamkan sebuah sepeda. Dengan sepeda pinjaman itulah, seorang anak perempuan dari kawasan pesisir Cilacap mulai belajar mengayuh, berlatih, jatuh, bangkit, dan mengenal kerasnya lintasan.
Hanya sekitar enam bulan berlatih, Delisha mulai menunjukkan hasil.

Pada April 2026, dalam Seleksi Popda tingkat Kecamatan Cilacap Selatan, ia berhasil meraih podium ketiga. Hasil tersebut mengantarkannya lolos ke Popda tingkat Kabupaten Cilacap.
Tanggal 9 Mei 2026 menjadi salah satu titik penting berikutnya. Dalam Popda tingkat Kabupaten Cilacap, Delisha kembali menunjukkan kemampuannya. Ia meraih podium kedua dan ketiga pada nomor XCE dan Criterium putri sekaligus memastikan langkahnya menuju Popda tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Menunggu pertandingan tingkat provinsi bukan berarti Delisha berhenti mengayuh. Ia terus berlatih dan mengikuti berbagai ajang balap sepeda di Jawa Tengah. Dalam Open Race Lanumad Semarang, ia berhasil meraih podium kedua.
Dalam kegiatan Gobar Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Delisha bahkan berhasil berdiri di podium pertama.
Tetapi perjalanan terbesarnya baru tiba ketika Popda tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026 digelar di Kendal. Di sana, Delisha harus berhadapan dengan pembalap-pembalap putri dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah.
Dengan usia yang masih sangat muda, pengalaman yang relatif singkat, serta segala keterbatasan yang dimiliki, Delisha tetap melaju.
Hingga akhirnya, perjuangan itu berbuah manis. Delisha berhasil meraih podium kedua XCE BMX putri Popda tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026.
Tangis haru pun pecah. Bagi Delisha dan keluarganya, medali itu bukan sekadar penghargaan. Di baliknya ada latihan, keberanian, dukungan pelatih, sepeda pinjaman, serta doa orang tua yang terus mengiringi setiap kayuhan.
Enam bulan sebelumnya, Delisha bahkan belum memiliki sepeda.
Kini, namanya telah tercatat sebagai salah satu peraih podium dalam ajang olahraga pelajar tingkat Jawa Tengah.
Bagi sang ayah, Gunarto pencapaian tersebut menjadi sesuatu yang sulit dibayangkan sebelumnya.
“Semoga ini menjadi awal yang bagus untuk bisa terus berprestasi di kancah nasional bahkan internasional, insya Allah. Dengan keterbatasan ekonomi kami sebagai orang tua,” ungkapnya.
Kisah Delisha bukan hanya tentang seorang anak yang berhasil memenangkan perlombaan. Ini adalah cerita tentang kesempatan yang datang dari hal sederhana. Tentang seorang anak yang awalnya hanya ingin menonton latihan dari balik tembok, kemudian berani berkata, “Saya ingin ikut.”
Dari kawasan pesisir Cilacap, Delisha menunjukkan bahwa mimpi tidak selalu dimulai dengan fasilitas yang lengkap. Kadang, mimpi dimulai dari rasa ingin tahu. Dari keberanian mencoba. Dari sepeda yang dipinjamkan. Dan dari seorang anak berusia 10 tahun yang tidak berhenti mengayuh meski jalan di depannya tidak selalu mudah.
Hari ini, Delisha telah sampai di podium Jawa Tengah. Esok, ia masih harus terus berlatih dan menempuh perjalanan yang lebih panjang.
Satu hal telah dibuktikan, anak dari pesisir pun bisa bermimpi setinggi mungkin. Dari pesisir nelayan Cilacap, Delisha mengayuh harapan untuk satu cita-cita yang lebih besar, menuju Indonesia